Tentang Narkoba

Narkoba singkatan dari narkotika dan obat / bahan berbahaya. Selain narkoba, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah napza. Napza singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. Adapula yang mengistilahkan madat.

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia, narkoba singkatan dari narkotik, psikotropika, dan bahan/zat adiktif. Sedangkan napza singkatan dari narkotik, psikotropika, dan zat adiktif

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 1982, yang mendefinisikan bahwa narkoba adalah sesuatu yang dimasukkan ke dalam tubuh, baik berupa zat padat, cair maupun gas yang dapat merubah fungsi atau struktur tubuh secara fisik dan psikis, tidak termasuk makanan, air, dan oksigen yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi tubuh yang normal.

Dari berbagai pengertian tersebut, simaklah penjelasannya berikut ini.

  1. 1.      Napza

Napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang apabila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh, terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi), serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Pada umumnya, istilah NAPZA digunakan dalam sektor pelayanan kesehatan, yang menitikberatkan pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial. NAPZA juga sering disebut sebagai psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.

  1. 2.      Madat

Ada juga yang menggunakan istilah madat untuk narkoba. Namun, istilah madat tidak banyak digunakan karena hanya berkaitan dengan satu jenis narkotika, yaitu turunan opium. Istilah madat banyak digunakan di kalangan LSM yang bergerak di bidang pencegahan penyalahgunaan narkoba, seperti Gemaker (generasi muda antimadat dan kekerasan), Geram (gerakan rakyat antimadat). Lembaga yang sangat getol mempertahankan istilah madat adalah Bersama (badan kerja sama sosial usaha pembinaan warga tama) yang merupakan payung organisasi yang memiliki kepedulian terhadap pencegahan penyalahgunaan narkoba. Alasannya, istilah madat sudah digunakan jauh sebelum istilah narkoba muncul dan madat merupakan kata asli Indonesia yang harus dipertahankan.

  1. 3.      Narkoba

Berdasarkan surat edaran Badan Narkotika Nasional Nomor SE/03/IV/2002/BNN, istilah baku yang dipergunakan adalah Narkoba sebagai akronim dan narkotika, psikotropika, dan bahan bahan adiktif lainnya. Istilah ini sudah sangat populer di masyarakat termasuk media massa dan aparat penegak hukum. Narkoba merupakan istilah resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah melalui surat edaran BNN.

Semua istilah, baik narkoba maupun napza, mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko kecanduan bagi penggunanya. Pembahasan dalam buku ini, kita menggunakan istilah narkoba.

Narkoba dibagi dalam 3 jenis yaitu Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya. Penjelasan mengenai jenis-jenis narkoba adalah sebagai berikut:

Menurut Soerdjono Dirjosisworo mengatakan bahwa pengertian narkotika adalah “Zat yang bisa menimbulkan pengaruh tertentu bagi yang  menggunakannya dengan memasukkan kedalam tubuh. Pengaruh tersebut  bisa berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat dan halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan. Sifat-sifat tersebut yang  diketahui dan ditemukan dalam dunia medis bertujuan dimanfaatkan bagi  pengobatan dan kepentingan manusia di bidang pembedahan, menghilangkan rasa sakit dan lain-lain.

Narkotika digolongkan menjadi 3 kelompok yaitu, Narkotika golongan I adalah narkotika yang paling berbahaya. Daya adiktifnya sangat tinggi. Golongan ini digunakan untuk penelitian dan ilmu pengetahuan. Contohnya adalah ganja, heroin, kokain, morfin, dan opium. Narkotika golongan II adalah narkotika yang memiliki daya adiktif kuat, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah petidin, benzetidin, dan betametadol. Narkotika golongan III adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah kodein dan turunannya.

Psikotopika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun sintesis, yang memiliki khasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas normal dan perilaku. Psikotropika digolongkan lagi menjadi 4 kelompok adalah Psikotropika golongan I adalah dengan daya adiktif yang sangat kuat, belum diketahui manfaatnya untuk pengobatan dan sedang diteliti khasiatnya. Contohnya adalah MDMA, LSD, STP, dan ekstasi.

  • Psikotropika golongan II adalah psikotropika dengan daya adiktif kuat serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : amfetamin, metamfetamin (sabu), dan metakualon.
  • Psikotropika golongan III adalah psikotropika dengan daya adiksi sedang serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : lumibal, buprenorsina, dan fleenitrazepam.
  • Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang memiliki daya adiktif ringan serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh : nitrazepam (BK, mogadon, dumolid ) dan diazepam.

3.     Zat adiktif lainnya

Zat adiktif lainnya adalah zat – zat selain narkotika dan psikotropika yang dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakainya, diantaranya adalah :

  • Rokok
  • Alkohol, yang terdapat pada berbagai jenis minuman keras.
  • Inhalansia/solven, yaitu gas atau zat yang mudah menguap yang terdapat pada berbagai keperluan pabrik, kantor, dan rumah tangga
  • Nikotin yang terdapat pada tembakau
  • Kafein pada kopi, minuman panambah energy dan obat sakit kepala terentu.
  • Kelompok alkohol dan minuman lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan.
  • Thiner dan zat lainnya, seperti lem kayu, penghapus cair dan aseton, cat, bensin yang bila dihirup akan dapat memabukkan

Penggolongan untuk Narkotika :

  1. Narkotika gol 1 adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi, mengakibatkan ketergantungan.
  2. Narkotika gol 2 adalah naekotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhit dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi, mengakibatkan ketergantungan.
  3. Narkotika gol 3 adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan, mengakibatkan ketergantungan.

Sedang dalam UU Psikotropika Bab II Ps.2(2) disebutkan bahwa :

Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma ketergantungan digolongkan menjadi :

  1. Psikotropika gol 1 adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat, mengakibatkan sindroma ketergantungan.
  2. Psikotropika gol 2 adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
  3. Psikotropika gol 3 adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang, mengakibatkan sindroma ketergantungan.
  4. Psikotropika gol 4 adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakbatkan sindroma ketergantungan.

Faktor penyebab penyalahgunaan narkoba dapat dibagi menjadi dua faktor, yaitu :

  1. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu seperti kepribadian, kecemasan, dan depresi serta kurangya religiusitas. Kebanyakan penyalahgunaan narkotika dimulai atau terdapat pada masa remaja, sebab remaja yang sedang mengalami perubahan biologik, psikologik maupun sosial yang pesat merupakan individu yang rentan untuk menyalahgunakan obat-obat terlarang ini. Anak atau remaja dengan ciri-ciri tertentu mempunyai risiko lebih besar untuk menjadi penyalahguna narkoba.
  2. Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu atau lingkungan seperti keberadaan zat, kondisi keluarga, lemahnya hukum serta pengaruh lingkungan.

Faktor-faktor tersebut diatas memang tidak selau membuat seseorang kelak menjadi penyalahgunaan obat terlarang. Akan tetapi makin banyak faktor-faktor diatas, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi penyalahgunaan narkoba. Hal ini harus dipelajari Kasus demi kasus.

Faktor individu, faktor lingkungan keluarga dan teman sebaya/pergaulan tidak selalu sama besar perannya dalam menyebabkan seseorang menyalahgunakan narkoba. Karena faktor pergaulan, bisa saja seorang anak yang berasal dari keluarga yang harmonis dan cukup kominikatif menjadi penyalahgunaan narkoba.­­­­­

Penyalahgunaan narkoba disebabkan oleh banyak faktor, baik faktor internal, maupun eksternal.

  1. 1.      Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang. Faktor internal yang dapat memengaruhi seseorang menyalahgunakan narkoba, antara lain faktor keluarga, ekonomi, dan kepribadian.

  1. a.      Keluarga

Jika hubungan kita dengan keluarga kurang harmonis (broken home), maka seseorang akan lebih mudah merasa putus asa dan frustasi. Akibat lebih jauh, orang itu akhirnya mencari kompensasi di luar rumah dengan menjadi konsumen narkoba. Kurangnya perhatian dari anggota keluarga dan kurangnya komunikasi antaranggota keluarga juga akan membuat seseorang merasa kesepian, dan tidak berguna sehingga menjadi lebih suka berteman dengan kelompok (geng) yang terdiri dari teman teman sebaya. Padahal, mungkin saja di antara teman dalam geng tersebut ada yang menjadi pengguna narkoba dan berusaha memengaruhi untuk ikut-ikutan memakai barang haram tersebut.

  1. b.      Ekonomi

Kesulitan mencari pekerjaan sering menimbulkan keinginan untuk bekerja menjadi pengedar narkoba. Namun, orang kadang tidak sadar bahwa menjadi pengedar narkoba adalah menyalahi hukum.

Di lain pihak, untuk dapat memperoleh narkoba harus mengeluarkan banyak uang karena narkoba harganya cukup mahal. Seseorang yang secara ekonomi cukup mampu, tetapi kurang memperoleh perhatian yang cukup dari keluarga atau masuk ke dalam lingkungan pergaulan yang salah, akan lebih mudah terjerumus menjadi pengguna narkoba.

  1. c.       Kepribadian

Kepribadian seseorang sangat berpengaruh terhadap tingkah laku orang tersebut. Apabila kepribadian seseorang kurang baik, labil, dan mudah dipengaruhi orang lain, maka akan lebih mudah terjerumus ke dalam jurang narkoba. Bagus tidaknya kepribadian juga sangat dipengaruhi oleh dasar pemahaman agama dan keyakinan. Semakin taat kita beribadah, maka pribadi kita juga semakin bagus dan tentu saja tidak mudah terseret arus untuk ikut menyalahgunakan narkoba.

  1. 2.      Faktor Eksternal

Faktor eksternal cukup kuat memengaruhi seseorang untuk menyalahgunakan narkoba. Faktor ini berasal dari luar seseorang, seperti faktor pergaulan dan sosial/masyarakat.

  1. a.      Pergaulan

Siapa orang yang tidak senang berteman. Semua orang pasti senang mempunyai banyak teman. Akan tetapi, kalau seseorang bergaul sembarangan, artinya masuk ke dalam pergaulan anak anak nakal yang menjadi pengguna narkoba, bisa berakibat fatal. Terlebih lagi bagi seseorang yang memiliki mental dan kepribadian cukup lemah, pasti akan mudah terjerumus. Teman sebaya mempunyai pengaruh yang cukup kuat bagi terjerumusnya seseorang ke dalam lembah narkoba, biasanya berawal dari ikut-ikutan teman kelompoknya yang mengkonsumsi narkoba. Hal tersebut karena pada usia remaja, seseorang masih suka ikut-ikutan. Oleh karena itu, untuk mencari teman, harusd yang punya sikap dan kegiatan positif, misalnya membuat kelompok belajar, kelompok pengajian, atau kelompok olahraga.

  1. b.      Sosial/Masyarakat

Sebagaimana faktor pergaulan, faktor sosial masyarakat juga memiliki peran penting menjadi penyabab penyalahgunaan narkoba. Lingkungan masyarakat yang baik, terkontrol, dan memiliki organisasi yang baik akan dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba. Sebaliknya, anak-anak dan remaja yang tinggal di lingkungan yang masyarakatnya sebagian besar bukan orang baik-baik, juga akan lebih suka berbuat menyalahi hukum, misalnya menjadi pengedar narkoba dan minum minuman keras. Selain itu, apabila masyarakat di lingkungan seseorang, terutama anak-anak dan remaja adalah orang baik, tetapi mereka acuh satu sama lain dan tidak saling memperhatikan, juga memperbesar kemungkinan dapat menjerumuskan orang itu menjadi pemakai narkoba.

Tidak pernah ada kata terlalu awal atau terlambat untuk mencegah diri dan keluarga dari tindakan mencoba-coba narkoba. Tips-tips berikut ini kami ketengahkan untuk membantu keluarga berkomunikasi tentang narkoba.

  1. 1.      Waktu-waktu Kebersamaan

Gunakan setiap kesempatan untuk membangun jalinan komunikasi dengan keluarga. Usahakan untuk melakukan beberapa kegiatan secara bersama-sama, misalnya makan malam keluarga, membaca, bermain, berolahraga, atau menghadiri berbagai acara kerohanian. Perlihatkan kepada keluarga bahwa untuk memperoleh kesenangan, anggota keluarga tidak perlu menggunakan/melibatkan narkoba.

  1. 2.      Siap Mendengarkan

Perhatikan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan keluarga kalian. Dengarkan keluhan dan kekhawatiran anggota keluarga. Ketahui segala kegiatan anggota keluarga, terutama kegiatan yang di luar acara keluarga.

  1. 3.      Belajar Terlebih Dahulu

Keluarga sekarang ini sudah lebih canggih daripada keluarga tempo dulu. Oleh karena itu, anggota keluarga perlu belajar terlebih dahulu sebelum memberikan pelajaran tentang bahaya penggunaan narkoba kepada anggota keluarga yang lain. Dalam banyak kasus, anggota keluarga dapat duduk bersama dan belajar mengenai risiko-risiko penggunaan narkoba.

4.      Pendidikan Setiap Bulan

Luangkan waktu dengan anggota keluarga minimal 30 menit setiap bulan untuk membahas tentang beberapa fakta sederhana bagaimana narkoba dan alkohol dapat merusak dan menghancurkan impian-impiannya.

  1. 5.      Peduli kepada Keluarga

Luangkan waktu sedikitnya beberapa menit sehari untuk mengatakan dan menunjukkan kepedulian Anda kepada keluarga. Pastikan anggota keluarga tahu bahwa Anda ingin agar ia bebas dari narkoba. Jelaskan bahwa Anda akan selalu berada di sisinya walau apapun yang terjadi. Pastikan ia langsung menemui Anda jika sedang membutuhkan informasi ataupun bantuan. Jangan lupa, keluarga memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan seorang anak.

  1. 6.      Awasi Anggota Keluarga

Waspadai tanda dan gejala jika anggota keluarga mungkin terlibat dalam penggunaan narkoba. Pastikan dirinya mendapat pertolongan sebelum terlibat semakin jauh. Jika perlu, kalian dapat meminta bantuan kepada seorang dokter anak ataupun psikiater.

  1. 7.      Tentukan Batasan dalam Keluarga

Menentukan beberapa batasan mengenai sikap dan perilaku yang dapat ditolerir. Dengan batasan tersebut, keluarga memperlihatkan kepedulian kepada anggotanya dan ingin membantu mengarahkan anggotanya agar memiliki masa depan yang aman dan bebas dari narkoba. Buatlah aturan seperti ini : “keluarga ini tidak menggunakan narkoba” atau “keluarga ini tidak bergaul dengan orang-orang yang terlibat narkoba”. Tekankan batasan-batasan tersebut kepada anggota keluarga. Jika keluarga mengatakan TIDAK pada narkoba ataupun minuman keras, aturan tersebut berarti berlaku untuk seluruh anggota keluarga. Cobalah untuk bersikap konsisten.

  1. 8.      Terlibat dalam Lingkungan

Pencegahan yang efektif meluas dari rumah ke lingkungan di sekitarnya. Buat diri kalian terlibat dalam lingkungan tempat tinggal kalian. Pastikan jalan-jalan, taman bermain, serta sekolah-sekolah di lingkungan tempat tinggal keluarga kalian bebas dari narkoba. Mulailah membentuk atau bergabung dengan kelompok pemantau lingkungan atau koalisi lingkungan antinarkoba. Berperan aktiflah dalam berbagai kegiatan yang positif, dan berbagai kegiatan kerohanian.

  1. 9.      Memimpin dan Menjadi Teladan

Para remaja menyadari apa yang anda katakan dan lakukan. Jangan hanya mengucapkan hal-hal yang bagus, namun tidak melakukannya. Berikanlah contoh contoh yang baik kepada anak anda. Jika anada sendiri memiliki masalah dengan narkoba, carilah pertolongan dengan segera.

Pertolongan Kedaruratan

Anda dapat melakukan tindakan pertolongan segera, jika terdapat keadaan kedaruratan seperti Ovverdosis, mabuk, dan gejala putus zat.

1. Overdosis

Keadaan overdosis perlu pertolongan segera, sebab dapat membahayakan nyawanya. Oleh karena itu, ia perlu segera dirujuk ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit terdekat. Sebelum dirujuk, Anda dapat melakukan tindakan pertolongan kedaruratan dan mengusahakan agar pernapasan berjalan lancer.

2. Mabuk, Fly, dan Teler (Intoksikasi)

Jika keadaannya tidak membahayakan, bawa ke tempat tenang, aman, dan nyaman. Jauhkan benda – benda tajam dan berbahaya. Jika siswa mengamuk atau terdapat gangguan jiwa, segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

3. Gejala Putus Zat (Sakau)

Meskipun gejala putus zat golongan opioida tampaknya seperti penderita flu berat, hal itu tidak menimbulkankematian. Ia pertlu dimotivasi agar mau menghentikan pemakaiannya dan menyadari akibatnya. Rujuk ke puskesmas atau rumah sakit, terutama jika gejala putus zat karena alkohol atau obat penenang/obat tidur.

Cr : to the owner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s